Halaman

Tampilkan postingan dengan label Mbambes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mbambes. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 April 2017

Blog terMbambes

Sempet berada dalam kevakuman, blog terMbambes ini ternyata masih ada penggemarnya, Sulak! Makasih lho Man, sudah tersesat ke blog Mbambes ini ditahun 2016 dan meskipun baru dengan keseloan saya sehingga saya baru tahu bahwa kamu masih setia jafi fenskleb blog sederhana saya ini di hampir pertengahan tahun 2017. Hahahahah

Tetap doakan agar memperoleh award blog terMbambes dari blog mbambes yang lain yak..

Salam...

*Pict : kumpul Mini-Mbambes ter-apdet di Jakal km11 (atau km berapa entahlah)

Read More »

Rabu, 19 Agustus 2015

Riding ke Pacitan Bersama Mbambes

"ini bukan sekuel ke-2 dari postingan Pacitan lho yaa, just enjoy it"

Latepost. Sudah sebulan saya menabung demi lawatan anak mbambes yang jauh dimata ini. Gendut ke Jogja!

Pacitan menjadi menu yang dipilihnya untuk menggenapkan liburan  1 minggunya di Jogja. Sebenarnya ini pas dengan kepinginan Saya, Owok, dan Rahmadi yang memang mengidam-idamkan untuk kembali riding ke Pacitan via jalur selatan tentunya.

Melalui penawaran yang terjadi, personel yang disiapkan  yaitu ; 1 motor ber anggota : Adit dan Rahmadi berangkat dari Solo, dan 3 motor beranggotakan : Gendut, Owok, Murni, Widi, dan Saya berangkat dari Jogja. Mbambes lainnya? Anita gagal ikut, karena ada kerjaan mendadak. Aris juga sibuk dengan kerjanya. Ebes sibuk dengan cintanya (baca sawit). Lukman sibuk dengan citra satelit, sementara Ali sibuk dengan Tigenco-nya. semoga lain kali.. semoga
lihat bendera kiri-kanan. kami akan riding sekitar 130-an km 
Jadilah kami ber-5 berangkat dari Jogja setelah sebelumnya sarapan dulu di tempat favorit di sekitaran Kota Gede. Selesai sarapan, sebelum lanjut berangkat mengarah ke Pacitan, di sekitaran POM Piyungan kami memberikan kode ke dua anak Solo bahwa kami sudah mulai cuss, dengan harapan kami bisa bertemu nanti di Pacitan dengan pas.

Jalan Jogja – Wonosari kami lalui dengan lancar, momen yang pas karena kami mengambil hari biasa, bukan hari libur. Selepas kota Wonosari suasana adem dan aspal mulus sudah tersaji didepan kami. Dijalan kami begitu menikmati  jalur Wonosari – Wonogiri yang aduhai. Saprol meliak-liuk dengan santai disekitar 60-70 kpj. Memasuki Wonogiri kami bersiap dengan aspal yang katanya nggronjal. Sepertinya itu hanya mitos bagi perjalanan kami, karena ternyata hanya sedikit saja kerusakan jalan yang kami temui. Plang penunjuk jalan juga sangat jelas menuntun kami lanjut ke arah Pracimantoro. Saking asyiknya, kami tak sempat kepikiran untuk sekedar berhenti berfoto, aspalnya begitu menggoda..
"Kami tak pernah terbayang sebelumnya jika jalur lingkar selatan (JLS Jogja – Wonogiri- Pacitan) akan kami nikmati dengan ...dengan... ah, saya pasti akan kembali melewati jalur ini..pasti..."
Kami janjian di pertigaan pertemuan JLS dengan jalur Pacitan – Solo, di daerah Punung namanya. Menunggu tak begitu lama, dengan mendung yang tampak menghitam disebelah utara, perjalanan Adit dan Rahmadi ternyata sempat diwarnai dengan gerimis kecil dan aspal super bumpy. Daripada menunggu agak lama, akhirnya rombongan dari Jogja mengabarkan untuk memilih meneruskan perjalanan menikmati setiap tikungan dan menunggu di hutan mahoni daerah Pringkuku, sekalian mengenang kembali perjalanan pacitan yang pertama.

Hutan mahoni ini menjadi andalan wisata tanpa mbayar sebelum memasuki kawasan pantai pacitan. Lokasinya yang agak nylempet membuat hanya sedikit orang yang tahu, karena berada persis di tikungan, membuat orang ndak begitu aware adanya hutan mahoni ini.
Pantai Telengria Pacitan jika dilihat diatas
Kalo di zoom lagi jadinya gini.. duh apik-ee
Dengan sedikit foto-foto najong kami menunggu kedatangan duet Adit-Rahmadi. Dan benar tak begitu lama, merekapun sampai. Ngaso sebentar, lalu kami lanjut mengarah santai ke Kota Pacitan.
wece-wece pose najong.. dih
kalo pas lagi begaya
Bertemu dengan Adit dan Dimas
Ke arah kota, kami langsung mencari masjid agung untuk istirahat dzuhur juga menentukan lokasi penginapan. Sebelumnya kami berniat booking online. Tapi takut kecewa dengan pesanan akhirnya setelah sempat googling dulu, kami akhirnya menginap tak jauh dari alun-alun pacitan, sekitar 200m sebelah barat alun-alun, disebelah selatan jalan. Ekonomis – Dekat – dan aksesnya mudah.

Beristirahat sejenak, cuci-cuci muka, lepas beban kami langsung start lagi mengarah ketimur, menuju Pantai Soge. Semoga pantat kami masih kuat menahan gempuran panas jok mesin 4 tak ini. Sempat diwarnai dengan “sedikit kesasar” karena GPS Widi yang ngetrack jalur lama, kami tiba di Pantai Soge menggunakan jalur offroad pating nggrunjal yang berujung di JLS Pacitan – Trenggalek, disebelah barat pantai Soge. SUPER!! Bahkan rem cakram belakang supra adit sempat nge-loss gara-gara dibejek saking terlalunya untuk mengatasi jalan rusak yang naik-turun.

Sedikit melintir gas, dan VOILA!!!  JLS Pantai Soge yang meliuk indah pun nampak. Istirahat sambil menikmati pentol khas Jawa Timuran, kami puas jeprat-jepret hingga menjelang maghrib sebelum akhirnya balik lagi ke penginapan untuk bersih-bersih dan siap menyambut malam di Pacitan.
MX nya Widi langsung pose
Rombongan pantaat di Pantai Soge
Owok yang selalu gagal motret Widi di tikungan Soge.. hhahahaha
ini entah siapa, lewat malah dapet foto bagus. Nice Job Wok..!!!
Selfie doloo..
foto lengkap personel dan motornya
Widi dan Soge.. ciyeee..
Selesai dengan berbagai aktivitas di penginapan, dengan wangi kami muter Kota Pacitan yang berakhir dengan warung tenda bakmi dan nasgor. Bingunglah yang membuat kami tak berkutik sehingga harus menyerah di dekapan warung tenda di samping dealer suzuki. Yaudah, makan aja. Toh abis juga hahahaha.. Selesai dengan urusan perut, meluncur ke alun-alun sekedar nongki-nongki dan melihat aktivitas muda-mudi kota seribu goa ini. Sambil nyemil jajanan indomaret, Saya, Owok, Adit, Rahmadi asik nyemil popcorn, sementara Murni dan Gendut asik nggak asik nonton film dari hpnya Gendut yang baru, dan berakhir dengan rasa kantuk yang menyarankan kami untuk berlabuh di kasur.

Hari ke-2 di Pacitan. Pagi cerah, dengan gelas-gelas kopi hitam yang sudah tersedia di depan kamar mengawali jadwal hari kedua. Foto-foto bentar dan tanpa mandi dulu, packing seadanya dan seperlunya, kami meluncur ke arah utara dari kota Pacitan.... menuju Pemandian air panas!!
Disambut kopi hitam pacitan
Rahmadi yang pagi-pagi udah mellow
Jalan yang adem masih setia menghiasi di kanan dan kiri. Lokasi pemandian yang agak masuk masuk gitu ternyata tidak membuat pengunjung sepi. Bahkan bus besar, medium, kecil hingga mobil pribadi sudah berjajar rapi di parkiran. Bayar loket langsung cuss!! Mandi air panas bumi asli..!! beeeeeh nanaas...

Demi alasan keamanan, foto aktiviti basah-basah diganti dengan pemandangan depan parkiran pemandian yang aduhai trims @wayyuwidi
Ada 3 kolam utama yaitu  , kolam anak, kolam dewasa, dan kolam super panas, serta kamar mandi VVIP dengan tiket tambahan untuk menikmati air panas secara eksklusif. Yaelaaah booorrr. Kami pilih kolam dewasa  dengan kedalaman sekitar dada/leher. Sempet ragu-ragu duo srikandi mbambes akhirnya nyemplung juga, yaiya, wong belum mandi hahahaha. Mandi sampe 1 jam lebih ternyata bikin capek, apalagi kalo pake gaya sok-sok-an banyak gerak, renang kesana-kemari yang ujung-ujungnya bikin KO. Makanya disarankan kalo mandi air hangat/panas, nyaman aja nempel di pinggiran kolam kayak simbah-simbah. Menikmati anget-anget panas air sambil sesekali membasuh muka. Catet!!
Aktivitas sok-sok an di kolam air anget ditambah perut kosong karena belum sarapan, memaksa kami untuk refuel dengan bakso lokal yang ternyata cukup ciamik rasanya. Karena makan nasi terlalu mainstrim! Matahari yang sudah hampir di atas ubun ubun pertanda kami hari kembali ke losmen. Check out !!

Tidak serta merta langsung balik ke Jogja/Solo, kami nyempetin berkunjung dulu ke Pantai Klayar.  Dimas ngebet banget pengen nonton seruling alamnya. Jalan yang baru ke pantai Klayar via Goa Gong cuman manis-manis tebu, prekk.. mulus sebentar, selebihnya ZONK! Jalanan ancur dan macett karena banyaknya pengunjung !!  Huff!! Setelah berjuang hampir 1,5 jam lebih kami dijalan, dan sesampainya di Klayarpun wuanjiir, full pengunjung, sungguh merana nasib kami.. ndak jadi liburann hahahaha...
begitu nampak di depan mata... walah ramenya
ternyata parkirannya tok yang penuh, pantenya biasa ajah..
Loncat-loncat buat tombo anyel
Minta difotoin orang lewat
Loncat jilid 2
Ada ATV buat yang pengen bandel di Klayar

Minat difotoin orang lagi
Akhirnya diputuskan istirahat sebentar sambil menikmati bakso bakar, lalu foto-foto sebagai penutup dan penghapus kecewa atas Klayar yang gak begitu owsom kalo menurut saya. Mungkin karena ramainya kali yak, atuhlah...

Jalur balik, untuk menghindari kemacetan dan jalur offroad, kami pilih alternatif yang langsung mengarah ke Pracimantoro. Jalurnya ndak kalah ekstrim namu selo, lias ndak banyak banyak yang lewat. Hingga sampai di Praci sudah hampir maghrib, refuell di pom lagi, langsung cuss mengarah ke Wonosari sebelum gelap, maklum, jalur Praci – wonosari cukup gelap karena minim penerangan jalan. Adit – Dimas juga ikut kami, via Wonosari. Hal ini karena jalur Pacitan – Wonogiri sungguh terlalu sehingga mereka memilih untuk mencoba jalur Wonosari – Klaten.

Sempet kena jebakan betmen  selama di jalan, dan berpisah dengan Adit – Dimas, kami sampai dengan selamat di Masjid Agung Wonosari ketika jam tangan sudah menujuk hampir jam 7. Istirahat sebentar kami mengarah ke Kota Jogja, dengan tujuan Nasi Goreng Notaris di daerah Lempuyangan.

Melahap sepiring nasi goreng sambil ketiwi-tiwi lihat hasil kelakuan kami selama di Pacitan hasil jepretan widi menjadi penutup malam sebelum kembali ke kos masing-masing.. oiya, adit dan Dimas kabranya juga berhenti istirahat di daerah Klaten/Sukoharjo mborong soto/sop 6 mangkok sekaligus.. Larrr Biyasaah..


Terimakasih waktunya, kapan-kapan diisi yang lebih seru. Kata Gendut sih next mau liburan di 11 kota/kabupaten mbambes.. HAH? YAQIN?? Insyaallah... see you next trip!!

Dibalik gambar mbambes yang bagus ada widi sebagai jurufotombambes..Thanks Wiiid.. 
Semoga kepingin


... 


Read More »

Sabtu, 25 April 2015

Pesona Pantai Nglambor dan Karang Gunung Kidul


Gunung Kidul memang femes dengan wisata pantainya yang kekininian. Ke Jogja kalo belum ke pantainya ya nggak gahol... Sepanjang batasnya dengan samudra Hindia, dari barat mulai batas mBantul hingga timur berbatas Wonogiri menyimpan pantai pantai yang mempesona dan sungguh layak untuk dikunjungi. Jika cukup selo, untuk wisata pantai Gunung Kidul ada baiknya buka maps.google.com dulu. Seret pointer anda ke bagian selatan Provinsi DIY ini dan tentukan mana spot pantai yang akan anda kunjungi.

Beberapa waktu yang lalu saya dan men-temen Jogja mengunjungi sebuah ceruk di barat Pantai Siung, yang belakangan baru tau saya kalo Pantai Nglambor namanya.

Kalo yang ini Pantai Siung, karena parkir motor disini, ya sekalian jepret ...
Akses ke Nglambor cukup mudah, kalo pernah kunjungan ke Pantai Siung, ya pasti tau ke pantai Nglambor, karena lokasi parkir mobil pantai ini berada tepat di pinggir jalan, sebelum ke Pantai Siung. CIYUS..

Saya bersama men-temen yang cupu karna hanya bermodal google maps, diniatkan untuk menginapkan motor di Siung (karena sudah tau) lalu jalan kaki ke Nglambor. Sungguh ini pilihan yang salah. Karena jalur baru telah dibuat khusus untuk motor tinggal ngikut jalan dari parkir mobil saja... (ya karena perkiraan kami pantai nglambor gak ada parkir motornya -__- )

Menyebrang Siung – Nglambor melewati perbukitan enak-enak susah. Minim papan petunjuk dan jalur yang dilewati-pun hanya jalur petani ke ladang. Ya mau gimana, wong kita tau jalurnya itu ya cuman lewat google maps, dimana ada jalur putih (jalan) kami percaya.. ternyata jalurnya super!! Kami juga melewati hutan jati dan sempat berjumpa dengan monyet liar sebelum akhirnya mendapat view Pantai Nglambor dari sisi utara. JOS!!

Kesasar dan jalan buntu, tapi pemandangan bukit karangnya JOSHGANDHOS
Pantai ini (menurut saya) adalah pantai yang baru, dan terbukti karena bangunan disana cukup minim. Tapi jangan salah, walaupun hanya 2-3 bangunan permanen, fasilitas disini cukup lumayan bagi pengunjungnya. Ada toilet, warung dan juga persewaan alat selam/snorkeling.

Berada diceruk hampir hampir mirip wedi ombo tapi yang ini lebih kecil, kemping disini cukup nyaman, karena banyak tempat yang dapat dijadikan tempat untuk mendirikan tenda dengan pandan-pandan duri (semacam itulah) yang akan melindungi dari hempasan angin laut secara langsung.

Oiya ketika kami kemping disini pas juga dengan momen blood moon dan cuaca minim mendung, sungguh voila hahaha.. Memandang bintang-bintang dan komet berjatuhan pastinya cihui banget..

Daya tarik pantai ini memang keindahan bawah airnya, meskipun harus bergelut dengan ombak yang cukup lumayan. Katanya sih pantai ini masuk kawasan perlindungan alias konservasi.

Selamat menikmati wisata lokal

Mampir dulu di Indomaret Bunderan arah Goa Pindul

Menikmati sunset di Nglambor

PAGINYA  CERAH!!
beresin 1 tenda dulu  sebelum nyebur

diving diving disitu tuh


....




Read More »

Rabu, 26 November 2014

[BUKAN] Repost Merbabu

Sudah lumayan lama rupanya saya ndak nulis hal hal berbau "nggunung" Ya Kan?

Se-enggak pengen-enggak pengennya rasa untuk nggak jalan-jalan kok ya tetep pengen..

Malem-malem gini nulis berbau "nggunung" aneh juga sih ya.. Tapi semua yang terjadi pasti ada alasannya.. Berbekal postingan si kampret "sulak" yang kebetulan malem ini entah ada angin apa saya mampir dotkom-nya sulak, saya jadi mikir..

"Iya,, mikir...."
"Lama nggak posting gunung juga ya. :D"

Maka perkenankanlah saya sedikit berbagi cerita.. dimana, semua berawal dari sini *tunjuk hati

Preparing
Beberapa waktu yang lalu, lama sudah saya sempet "off" , ngaso aktivitas begituan (begituan disini dibaca jalan-jalan ke gunung), hingga pada suatu hari ajakan yang tak mampu ditolak itu datang lagi. Ajakan yang datang dari seorang ahli foto mbambes.

Kemana? deket saja, tempat yang terkenal dengan bukit teletubies-nya. Tujuan dari awal memang hanya photo hunt, kerennyaaaa..... Kami ambil jalur itu ya memang karena pemandangannya dan kebetulan beberapa hari sempet hujan, jadi suzanna harusnya sudah mulai sejuk untuk halan-halan.

Benar saja, jalur yang dulu sempat terasa mematikan karena cuaca yang mawut banget naik sore hari membuat semuanya jadi gamblang. Jalurnya sebenernya asik cyiint. Saya trus trang nggak apal per-postnya, yang pasti dari awal kami sudah disambut HUTAN! Ini memang awal yang membuat semangat saya sendiri. 

Baru aja jalan udah ketemu dedek dedek gemes dari Jogja.Mereka baru pertama kalinya dan niat untuk sampe puncak. JOZ..
Kami hanya bertiga, sayaa, si ahli foto mbambes, dan mas-mas geek mbambes yang pertama kalinya mau diajak naik nggunung... *padahal..... Bersiap dari basecamp, setelah bekal dirasa cukup, kami naik dengan riang, menikmati jalan.

Post demi post kami lewati, sambil mengingat bagaimana susahnya medan dulu, saya masih hafal betul. pantesan kesasar, setelah daerah lapangan dimana dulu kami keok, trek nya naik betul untuk sampai di Sabana 1, dimana kenampakan bukit teletubbies sudah mulai terlihat muaknyuss.. 


Jam 10-an malem, kami sudah mulai mendirinkan tenda. Kabut dan angin ngebut banget, perkiraan saya ya hujan. eh enggak ternyata. syukur deeh.. Tenda yang dipake harusnya cuman buat couple alias sepasang, diisi bertiga dengan badan saya yang paling tipis, tidurpun dibela-belain miring agar muat bertiga. sempit, anget, suk-suk-ndeng.

Mas fotograper yang kayaknya gundah gelisah nggak bisa tidur sekitar jam 3/4 pagi sudah mulai foto-foto, sayangnya lensa tele malah nggak dibawa.. :|
Diisi bertiga
Apalagi yang ditunggu saat pagi.. SUNRISE pastinya! Ajib bener, Sunrise di depan, Merapi dengan kokohnya di kanan dan puncak di kiri. SUPERB! Nggak ada yang lain selain disini. #yaiyalahbrew. Lanjut masak dan bergembira karena ini kali pertama lewat jalur ini dan *hampir sampe puncak bagi kami bertiga. Cupuu... Berikut saya lampirkan beberapa hasil jepretan selama halan-halan kami waktu itu.. foto terlampir :))
Imut-imutan di deket tempat nenda

Biar dapet view yang bagoos..

view tempat nenda kami dengan background merapiini yang nagih..!!
Udah mirip JMT?

Surakarta, Salam mdpl...
....

Read More »

Selasa, 10 Juni 2014

Secuil Perasaan Kangen

Dari ulah Dimas yang ngeshare ini di grup wasap yang "sempet sepi" .. ngena ih, makasih lho dim, ternyata dari yeahmahasiswa, buat renungan, pasti semua pernah ngerasain kok.., YA KAN..??? Jadi gini...


"bareng-bareng terus ya :)”
“yang penting masih bisa atur jadwal kumpul lah”
“yang penting masih bisa ketemu sesekali lah”

"bareng-bareng terus ya :)”
“yang penting masih bisa atur jadwal kumpul lah”
“yang penting masih bisa ketemu sesekali lah”
people come and go, selagi masih bisa kumpul, usahakanlah kumpul
nikmatin kebersamaan, while it lasts

nyatanya ilang temen yang biasanya suka ngumpul bareng lebih nyakitin daripada putus sama patjar,

masa-masa ngajakin ke warkop rame-rame malem-malem tinggal main berangkat aja,

dulu sih mau kumpul tinggal kumpul
lama-lama
diajakin via grup chat yang ngerespon makin dikit
makin dikit
makin dikit
sampe masing-masing udah sibuk sendiri-sendiri.

kalo udah gini, ya ngga bisa nyalahin siapa-siapa, emang masanya udah habis :’)

“sukses lah bro, see you on top”
:’)

ada satu titik masa di mana lo seolah ngeliat ke belakang, terus sadar kalo temen2 yang dulu barengan satu2 pada hilang. Is it just me? or,

coba liat foto yang lagi bareng-bareng sohib-sohib lo dulu sob

kita cuma kebetulan aja jalannya lagi ketemu di kuliah ini, nanti pisah, semoga jalannya sempet singgungan lagi kapan-kapan

see the happy and silly faces in there

people come and go, memories from time well spent with them stay

skripsi merusak persahabatan, sejak mulai, prosesnya bikin sibuk, sampe akhirnya pada kelar dan misah-misah

all the good things, will it ends?
it will

dari yang mau nyapa tinggal nyapa
sampe kalo mau nelepon mesti tanya dulu lagi sibuk ngga

dari yang asal main tag foto-foto konyol temen-temen
sampe yang mau ikut komen aja ragu karena banyak komen dari temen-temen barunya dia

dari yang kalo mau chat ngga perlu ada topik aja bisa seru
sampe yang mau mulai chat temen lama aja nunggu ada perlu/topiknya dulu

dari yang udah ngga tau malu minjem duit
sampe yang segen sekedar mau tanya kabar doang
:’)

jangan remehkan secuil perasaan kangen

Akhirnya cuma berani scrolling news feed temen-temen lama, I’m happy that you are all ok, guys.

dari yang main pinjem aja baru bilang,
sampe yang; nanti deh, takut ganggu :)

“kalian adalah temen-temen terbangke, terkampret, ter-annoying; gue pengen kalian gangguin kayak dulu lagi, dammit!"


“nanti juga bisa lah kumpul lagi”
is the evilest lie we told ourself

the first thing you’ll realize when you wake up tomorrow morning is;
it’s all gone.

sayangnya kangen itu datengnya ngga barengan; pas kita kangen mereka yang dikangenin lagi ngga kangen. Dan sebaliknya.

kalo ada yang ngajak ngumpul, usahakan kumpul walau ngga lagi kangen-kangen amat. Who knows it’s their last, or yours
jangan nunggu susah-seneng-bareng sampe jadi susah-ngumpul-bareng

Jangan sampe susah banget diajak kumpul sampe temen-temen ngga ngajak lo kumpul lagi
masa-masa kita bener-bener bikin effort buat ketemuan, bukan sekedar kalo waktunya luang doang…


@yeahmahasiswa

  http://chirpstory.com/li/203950

....




Read More »