Halaman

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juni 2025

KUPS KWT Bunga Manila Desa Sedoa

Bukankah kabar baik harus disebar luaskan ?

Mungkin sesekali memang harus berbagi, apasih yang membuat saya mlipir ke Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah dari tahun 2023 lalu.. yaaa sudah 2 tahun blog ini pindah homebase ke Kota Palu.

Kabar bagus ini saya ambil dari website PT. Hannah Asa Indonesia, mitra Kegiatan Perhutanan Sosial yang berbasis di Palu.

Boleh banget mampir ke website Hannah Asa Indonesia untuk mendengar cerita pemberdayaan perempuan, literasi keuangan, dan kabar baik dari Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah di : Website Hannah Asa Indonesia 

Poso, 05 Maret 2024 - PT Hannah Asa Indonesia bekerja sama dengan Indonesia Jerman melalui Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan ( BPSKL ) Wilayah Sulawesi, menggelar pelatihan kewirausahaan dengan tema Peningkatan Kelompok Perempuan Binaan Forest Programme III - Sulawesi.

Edukasi dalam pelatihan ini diberikan oleh Mardiyah, ST, AWP, QWP Selaku Founder Hannah Asa Indonesia. PT Hannah Asa Indonesia merupakan Perusahaan yang bergerak dibidang jasa konsultan keuangan berbasis syariah dan menerapkan prinsip islam dalam implementasinya. Hannah Asa hadir untuk membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat desa yang ada di Sulawesi Tengah.

Pelaksanaan pelatihan ini berikan kepada salah satu kelompok UMKM yang berada dibawah Binaan Forest Programme III - Sulawesi yaitu Kelompok Wanita Tani Bunga Manila, Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, kabupaten Poso. Pelatihan ini bertempat di kantor Desa Sedoa yang dihadiri sebanyak 15 peserta. Kali ini Hannah Asa memberikan materi pelatihan tentang Tata kelola Usaha, Marketing , Pitch Deck dan Harga Pokok Produksi (HPP).


proses pembuatan sarabba KUPS KWT Bunga Manila

Secara administratif pelaksanaan kegiatan Forest programme III - Sulawesi ini dilaksanakan di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Poso di tiga kecamatan ( Kecamatan Lore Barat, Lore utara dan Lore Peore ) tersebar di 15 desa sasaran, dan Kabupaten Sigi di 7 kecamatan ( Kecamatan Kulawi Selatan, Kulawi, Lindu, Palolo, Nokilalaki, Sigi Kota dan Dolo Selatan ) tersebar di 33 desa sasaran.

Ketua KWT Bunga Manila yang sekarang memproduksi Sarabba Instan - Warni Rabili mengatakan, “Kami mendapatkan dukungan dana dari FP3 berupa alat-alat pembuatan sarabba instan dan rumah produksi. Semua itu membantu kami Kwt Bunga Manila yang pada awalnya tidak berdaya, tetapi sekarang dengan adanya dana dari FP3 ini kami bisa memproduksi sarabba instan dengan layak kemasannya. Dan dengan semua itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada FP3 dan BPSKL yang selama ini sudah mendukung kami sampai pada saat ini bisa membuat produk sarabba instan dan kiranya kedepan kami bisa mengembangkan apa yang sudah di rintis oleh FP3”.

Kegiatan pelatihan ini merupakan bentuk wujud dukungan Hannah Asa yang bertujuan agar dapat membantu mengembangkan pertumbuhan ekonomi masyarakat desa di sulawesi tengah. Tidak hanya itu, dengan adanya pelatihan ini diharapkan agar Kelompok Wanita Tani Bunga Manila dapat meningkatkan pengetahuan tentang cara mengelola usaha yang baik dan benar.

Dari kios kecil inilah KUPS KWt Bunga Manila memulai usaha sarabba dan aneka cemilan lain dari Desa Sedoa

Yak betul, Bu Warni adalah salah satu pentolan atau bahasa kerennya local champion di Desa Sedoa dengan kelompoknya "KUPS KWT Bunga Manila".

Bu Warni bersama KUPS KWT Bunga Manila berusaha di bidang olahan pangan khususnya bahan minuman serbu sarabba, bacanya pake penekanan   SA' RABBA". minuman kesehatan khas orang sulawesi yang terbuat dari jahe, santan, dan gula merah aren.


Kunjungan tim Kementerian Kehutanan , Bappenas, dll ke kelompok KUPS KWT Bunga Manila, tentunya sambil belanja produk dong

KUPS Bunga Manila merupakah salah 1 dari 370-an kelompok usaha yang ada di dalam dan sekitar kawasan hutan yang legal mengelola kawasan hutan dengan payung hukum persetujuan perhutanan sosial. Dari Lembah Napu di pedalaman Poso, Bu Warni berusaha menjadi benteng dalam optimalisasi pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan turut serat berkontribusi dalam usaha peningkatan kesejahteraan keluarganya, melalui jalur usaha bersama ibu-ibu yang lain di Desa Sedoa.

Bonus Padang Napu

Ayok main ke Napu ketemu Bu Warni dan KUPS KWT Bunga Manila dan icip icip sarabba Made In Sedoa..

cerita lain ? Masih banyak... tunggu ya, nanti saya update kabar dari hutan yang lain..

Read More »

Senin, 01 Mei 2023

Sereh Adalah Kunci

 

Saya itu terkadang menye-menye soal hal hal sepele. Soal tanaman misalnya. Contohnya tanaman atau lebih tepatnya rumput di halaman rumah kami ini, tidak pernah saya cukur habis.

Alasannya ?

Sepele. Saya ndak tega memangkas habis kehidupan mereka. Rumput yang hijau menambah oksigen. Bunga bunga rumput disenangi lebah, jadi kalo dibabat habis kasihan lebahnya harus terbang lebih jauh buat nyari madu. Rumput juga menjaga tanah biar ndak "katut" kalo terkena percik air hujan dan alah terbawa aliran air ke selokan, jadi ini sebuah upaya Konservasi Tanah dan Air agar tanah disekitar rumah tetap terjaga. Dan masih banyak alesan lain yang pasti panjang kalo saya beberkan semua. "Cah lanang" memang punya stok segudang alesan.

Hal ini juga berlaku setibanya kami sebagai kontraktor (alias tukang kontrak rumah disini disana untuk tinggal kami) di Sulawesi sini. Rumput di depan rumah, samping, dan belakang rumah seringkali saya biarkan tumbuh bebas. Paling 2 atau 3 bulan sekali baru dirapiin, dikurangin biar gak jadi sarang kodok.

Prinsip yang saya pegang teguh ini sudah barang tentu tidak dapat diterima semua pihak. Lho, mamak saya saja protes tiap kali saya “babat – babat” pekarangan rumah. So, Istri tentu protes juga. Bedanya kalo mamak protes , dan gak sesuai “kekarepane” ya “ditandangi dewe” cabutin rumputnya sendiri, kalo istri saya yang tipikal pasrah, ABS (Asal Bapak Senang) dia nurut dan diem saja. Kalo sudah kebangetan lha baru protesnya ditambahin bumbu “mecucu mecucu” minta biar dicukur rapi rumputnya.

Solusinya tentu dicari dan ketemu. Adalah tanaman sereh namanya.

Bermodal sebatang sereh tunggu beberapa bulan jadi “sak gombyok” bisa jadi menuhin areal berdiameter 1 meteran di halaman rumah panjengan semua. Jika 1 rumpun saja bisa mengisi halaman berdiameter 1 meter, maka cukup 2/3 rumpun sereh, halaman panjengan pasti penuh, dan rumput liar juga dibikin segan untuk tumbuh disekitarnya. Perawatannya mudah, cukup siram sesekali dan dicukur biar ndak terlalu berat daunnya. Karena daun sereh itu berat, terlalu mobat mabit kalo terkena angin yang kenceng, dan nggak estetik juga kalo gondrong banget. FYI Sereh juga berkontribusi dalam penjaminan swasembada bumbu dapur. Sereh kan salah satu kunci penting kenikmatan sayur buibu. Apalagi yang lagi masak yang amis amis kayak ayam atau ikan. Penting Itu. Bahkan saking cepetnya sereh ini tumbuh, saya auto jadi philantropis sereh di tetangga sekitaran rumah.

Bu, atau siapa kalau butuh sereh, silahkan ambil saja jangan sungkan” begitu pesan saya ke tetangga.

Kurang mentereng apa coba saya ini kalo sudah mengikhlaskan sebagian “hartanya” ke tetangga. Imej baik tentunya didapatkan secara mudah. Tetangga juga secara rutin paling nggak seminggu sekali nengokin/cek rumah kami sambil memaneh sereh gratisnya. Rumah aman, silaturahmi terjaga, pahala mengalir. Cemerlang memang ide saya.

Itulah tadi soal sereh yang menjadi salah satu sumbangsih nyata saya pada Gerakan Ayo Menanam.

Panjengan Gimana ?

Read More »

Jumat, 17 Juni 2016

Ramadhan 1437 H tahun 2016


Selamat menunaikan ibadah puasa bulan ramadhan man-temans. Sebagaimana bulan puasa sebelumnya (kalau ndak salah inget 2014) selain diisi dengan kegiatan positif rutinitas juga diisi dengan nonton bareng pertandingan sepak bola euro, yang kali ini diselenggarakan di prancis, 2016.

Bagi para maniak bola tentu ada semangat sendiri  sahur dengan nonton bola, lha kalo saya? Cukup tau dan iya iya saja...

FYI, Jagoan saya Ukraina dan Swedia sudah keok semua. asemik...

Kroasia kayaknya sedang naik daun. Itali pun tampil mempesona. Itu kalo menurut analisis seorang  awam seperti saya ini. Ndak tahu kalo menurut mas jebret atau mas ahai..

Sepertinya itu saja dulu. Semoga puasa kita semua lancar dan bisa ketemu dengan Idul Fitri, Aamiin..

Oiya harga kolak ditempet saya puasa ini Rp 3.000,00 saja. Itu sudah seukuran plastik es batu dengan komposisi : pisang raja 1 buah, potongan ketela pohon  potongan ubi, dan potongan waluh.

Read More »

Senin, 14 Maret 2016

Tentang Susi

Lets the long Susi story begin...

Setelah teronggok tak berdaya, haus kasih sayang, berdebu dan ber”sawang” jadi rumah onggo-onggo  saya putuskan untuk meninggalkan Saprol dan beralih kepada Susi.

Susi adalah montor kenang-kenangan Bapak yang untuk pertama kalinya menjajal arisan dealer tahun 2000. Saat itu saya hanya tau dari brosur bahwa JIALING menjadi motor yang berdesain owsem dibanding honda astrea star item-ijo tahun 96 yang menjadi kendaraan andalan bapak wira-wiri nganter kami sekeluarga.

Neng Susi

Entah bejo atau memang bapak tahu jika merk “HONDA” jauh lebih mentereng dibanding “jialing” yang saat itu merasuki pikiran saya lewat brosur yang entah dari siapa kok ya mampir dirumah kami... Itu pasti konspirasi..

Apik iki Pak, iki yo apik Pak” seloroh saya, sambil nunjuk nunjuk motor yang kala itu bermodel seperti Astrea Grand dan Supra... Saya inget betul, soale memang waktu itu saya naksir berat sama Jialing. Sorry lho..no offense...

Dan seperti biasa, bapak hanya meng-iya-in omongan saya kecil.. Itupun tiap malem sebelum belajar, saya wajib nyawang brosur jialing itu. Kesengsem ceritanya.

Singkat kata bapak akhirnya dapat arisan daaaaaan... diambillah Susi item mulus, dibawa kerumah dianter pick-up dan JENJEEEEENGGG... sak omah mesam-mesem bahagiane poool...


Saya yakin seyakin yakinnya, mamak saya yang ndak paham motor sama sekali pun saat itu kalaupun boleh sombong pasti :

Ikii lhooooo montor supraaaakuuuu... ngguaantheng-e jyaaaaan..” pasti gitu.. pasti.. hahaha

Susi adalah Supra X tahun berakta lahir 2000. Dipersenjatai dengan bodi hitam diseluruh tubuhnya. Plisir/stiker yang ada ijo ijonya cakram depan dobel kaliper, sok belakang dobel dengan ulir yang disepuh krom. Rem belakang tromol,  berkaki jeruji dengan sepatu ukuran 2.50 depan  2.75 belakang, dan sein warna kuning klasik.

Supra Susi memang nggantheng bet saat itu.., tentu jika dibandingka dengan  Astrea star yang ada dirumah saat itu yang bentuknya relatif kotak-kotak dan kalo direm depan depan justru malah mumbul. Susi owsem banget. SUKAK.

Akhirnya Susi menjadi andalan baru bapak dan mamak mendapatkan warisan Star untuk menjadi glindingan mengantar 7km-an bolak balik ngajar.

"Susi  menjadi andalan Bapak bolak balik Jogja – Purworejo dan menghadiahkan bapak gelar S.Pd-nya di bidang pendidikan sejarah jepang."

Selama beberapa tahun dihandle tangan dingin Bapak, Susi tak jarang diajak menembus banjir jalan Jogja yang saat itu bisa mencapai setangah ban. Susi juga pernah ndlosor bareng bapak, seinget saya suatu kali ada ayam jago sruntulan yang nyebrang jalan tanpa nengok. Lurussss terus bablas nyebrang jalan...

Otomatis mak tlesep masuk roda depan Susi, dan sukses membuat Bapak dlosoran, hingga Susi berputar 360’ berbalik arah. Kejadian itu cukup membuat Bapak ngaso semingguan karena dari siku hingga bahu kegerus aspal. Alhamdulillahnya selain itu dan beberapa memar, bapak sehat wal'afiat begitu juga si Susi. 

"Dalam jeda ini si Manis hadir menemani bapak menjadi pengganti Susi, saya mulai berlatih motoran dan Star menjadi kenangan karena dijual. Duh dek."

Mas Adi menjadi penerus tampuk kepemilikan Susi mulai tahun 2006-an sejak diterima PTN di Kota Lumpia. Saat itu Susi sepenuhnya dikuasai Mas Adi mengaruhi jalur Purworejo – Magelang – Ambarawa – Semarang. Juga ngider disekitarnya, seperti Pekalongan, Demak, Temanggung, Banjarnegara, dan daerah di sekitar Kota Atlas sana.

Susi hasil kreasi Mas Adi semasa kuliah

Kala itu, demi mendukung anak kuliah yang tampil modis, Susi dipretel tebeng depannya.  Spion dipaksa sebelah, dan ditekuk kebawah.

Ben Awet, eman emang nek kegores” begitulah kata Mas Adi. 

Dengan argumentasi seperti itu, meskipun bapak dongkol karena dianggapnya wagu, namun lokasi Susi yang nun jauh disana tanpa pengawasan Bapak ... bapak bisa apa..?  Mas Adi menang telak.

"Tebeng depan Susi dalam waktu ini mulai modal madul. Yu Know lah kualitas plastik ngondaa.. tipis, ringkih dan tentu gampang pethil."

Susi juga menjadi saksi bisu ketika Mas Adi dikeok bebek lain ber-cc yang lebih besar dijalur Purworejo – Semarang, trayek yang sesungguhnya kekuasaan Mas Adi. Tanjakan Ngargoyoso Magelang dan kontur jalur yang naik turun, memaksa Susi diasapi bebek lain dan motor sport lain.  

Puncaknya ketika si sulung-nya Pak Lik juga nututi Mas Adi kuliah namun di PTN lain, di Kota Lumpia juga. Susi di keok Kawasaki Blitz R-nya sepupu. Mas Adi terdiam membisu menyaksikan motor andalannya menjadi buli-bulian disetiap tanjakan.

Sang tersangka, Kawasaki Blitz R

Susi dipensiunkan dari Mas Adi sekitar tahun 2008-an ditandai dengan diserah terimakannya kunci Si Manis piaraan bapak ke Mas Adi. Dengan Susi yang dirumah, maka kadang kala Susi menjadi media berlatih saya motoran bersama bapak. Manis kemudian menjadi andalan Mas Adi, dan gantian Blitz-R dikepret balik oleh Mas Adi dengan si Manis. HAHAHAHA...

"Bapak gantian pake Susi. Dan hadirlah Empit menemani saya."

Susi kemudian langganan dongkrok di rumah, hanya sewaktu waktu saja dipakai mamak, karena mamak lebih banyak nyepeda onthel, dan Bapak berpaling dengan Hadirnya Saprol tahun 2010. Mesin 125cc saprol sukses membuat bapak kepincut

Susi terpuruk nganggur di rumah. Meskipun juga tentunya beberapa kali dirawat seperti misalnya ketika Bapak mulai kepingin Susi dimake over, dan diboronglah satu set sayap Susi versi kw grade skian-skian-skian, dengan mahar 70rb dan tukar tambah set sayap Susi yang sudah berantakan pating klether. Ganjalan saya saat itu adalah slebor belakang Susi yang terkesan mblesek ke dalam. Wagu, jyan. Namun dengan kondisi seadanya Susi masih mampu menemani bapak-mamak ke pasar. Atau sekedar sebagai pengganti si Manis, nganter bapak ngantor.

Slebor kw super, super abal-abal. dan slebor yang mblesek

Sayap Susi kw super amburegul ini masih awet hingga sekarang. Berstatus kw super abal abal ditandai ketika disiram air, baik sewaktu kondisi panas/dingin muncul bintik putih pating clenong sekujur sayap Susi bagian dalam. KUALITAS AAAPAA INIII... !!!

"Hingga datanglah pak dhe/siwo dari Lampung sana kerumah simbah. Pulang kampung ceritanya."

Nganggurnya Susi lalu diberdayakan menjadi motor angkut angkut. Angkutan panen padi, motor offroad karena lokasi rumah simbah yang sungguh offroad-able. Tercatat :Tebeng sayap kw super pun sakses semakin ancur.  Ganti sok belakang. Mika lampu utama depan diganti model supra tahun baru yang ada semacam reflektor yang owsem dan lain lain. Miris, walaupun pakdhe tetep sigap soal ganti oli.

Susi nganggur lagi ketika pakdhe-budhe balik Lampung. Ditinggalkan dengan kondisi rem depan seret-e ra gejamak, gir set luancip luancip, jeruji geal-geol, bodi pating kriet, seal oli rembes-bocor, dan segenap masalah lain yang mendera.

[bersambung...]
[eh, gak jadi ding, lanjut aja....]

"Lalu dengan segenap cahaya dibelakang,  muncullah tangan saya meraih Susi yang tersisihkan. HALAH."

Restorasi dilakukan bertahap. Hingga sekitar akhir tahun 2015  dimulailah :
ganti ban CHECK!
kabel speedometer koit, GANTI!
cek kelistrikan, TOKCER!
cek aki, TOKCER!, 
cek bensin, ISI!
Cek seal kick stater, GANTI!
Cek oli, GANTI!
Cek kampas rem, MAKNYUS!
Cek cakram, 200ribu!!! :(
Gear set, NTAR DULU!
Kok banyak...hmmm....

Berangkat benerin cakram, noted : slebor masih mblesek

Susi saya boyong mengaruhi Jogja – Solo hingga Kabupaten yang femes ber-Bledug Kuwu ini.

Tentu dalam perjalanannya Susi juga kembali, rewel, maklum lagi beringas-beringas-nya, 15 tahun jhe! GADIS !

Susi masuk bengkel di Solo

Seal persneleng tercatat rembes oli, ternyata satu set dengan seal magnet juga, bongkar, GANTI!  Dengan kondisi perbaikan disana sini, Susi masih sangguh meraih 100 kpj on speedo. Itu belum sambil nunduk nunduk. Bayangin kalau saya pethakilan le nge-gas Susi sambil njengking.. Susi pasti masih sangguh 110 kpj on speedo

"Bayangkan, , 15 tahun+, 110 kpj on speedo tjuuy.. OWSEM.!"
Coba Numpak Susi pake gaya begini.. Situ tak salip ngondek!

Susi kembali ngambek, ketika gear-rantainya mulai dorce. Padahal saat itu sedang melintas tengah sawah bareng Dimas, boncengan, bawa peralatan lenong.

Saya putuskan balik dengan rantai Susi pating krecek,. Wis swarane ranggenah blabar blas..

Dimas sempat was-was minta dituntun saja. Saya tetap ngotot, dinaiki boncengan.

“nek wis wayahe pedhot, ya pedhot wae ngko tinggal nyurung” begitulah prinsip saya.

Alhamdulillahnya Susi masih sanggup nganter hingga bengkel terdekat sekitar hampir 1 kilo-an. Dan diganti dengan gear-set abal-abal lagi. 100 ribu lengkap. Itupun 2 bulan lalu, dan saat ini dengan sukses mulai dorce. Oh Susi nasibmu.

Hasil berburu gear set KW SUPER ABAL ABAL. Hahahaha

Susi kembali ngambek ketika saya pakai mudik. Setelah lancar mengaruhi Kopeng - Ketep, tepat di pertigaan Borobudur mogok mati-ti. Busilah penyebabnya.

Seal persneleng Susi juga rembes lagi diumurnya yang baru dua mingguan . kayak tabloid aja dwi mingguan...

Sekalian mampir jogja, Susi saya serahkan di AHASS Jakal Km 8-9-an. Tepat kiri jalan dari selatan sebelum bangjo kalo kebarat ngarah ke Denggung, Sleman. Agak mahal asal beres dan rapi tak apa. INI DEMI SUSI YANG LEBIH BAIK! TEKAD.

Cilakanya servis disana ternyata pelayanannya amburegul pisan. Setelah diperiksa, seal magnet kembali menjadi penyebabnya, dibongkarlah lagi bak magnet Susi. 

"Perlakuan  Mas Mekanik AHASS membuat hati saya pilu."

Saya melihat mekanik yang berkumpul diSusi jadi penasaran. Eeee.. ternyata pembongkaran dan pemasangan bak magnet kiri susi tanpa disertai dengan buka cover bodi samping Susi. Padahal cover gear depan juga harus dicopot.


Maka dengan asal mas mekanik-yang-saya-tidak-tahu-namanya ini  menarik-narik merenggangkan bodi 15 tahun-an Susi demi memasang bak magnet dan cover gear yang tak kunjung bisa pas dan sreg, karena selalu nyantol rangkaian dudukan footstep belakang. JINDUL!

"Yang PAS dan SREG emang susah didapatkan kok mas, saya tahu itu."

Disela ke khawatiran saya terhadap Susi, saya menyarankan untuk buka bodi samping susi dan wooooo...tidak digubris. Mangkel Aku. SYEM.

Namun akhirnya bisa juga setelah serangkaian proses tarik menarik dan diongkek-ongkek itu. Hati saya masih pilu.

Ada kontra tentu ada pro-nya. Hasil pemasangan seal dari tangan mekanik AHASS masih sukses membuat Susi kering bawahannya. Makasih mas, etapi saya bayar lho, Ora gratis!
"Trimakasih AHASS"
Kini dengan usianya yang menjelang 16 tahun, Susi saya harap masih setia menemani keluarga kami. Motor model paling modern di jamannya, mengubah jaman motor bebek honda dengan shock teleskopik dan rem cakram sebagai peranti keamanannya.

Hasil bersolek, slebor belakang kembali standar, semuaaa standaar...
Sempat ada wacana JUAL! JUAL! JUAL! Dari bapak karena Susi sudah cukup berumur, mampu saya redam. Biarlah kini saya yang bernostalgia diumurnya yang menginjak gadis ini.

Odometer yang sudah muter balik lagi dan kini kembali menginjak angka 47-an ribu km menunjukkan Susi sudah cukup lama berkelana mengarungi berbagai model jalanan..



Mejeng bersama Dimas di daerah Salatiga
Bersama Kak Ali di Waduk Tempuran Blora
Ada yang pesen ikan bakar?

So, Susi... Welcome back Miss. Let start our story together...










Read More »

Minggu, 28 Februari 2016

Dimulai dari Nol


“Hingga pertengahan Oktober 2005, perusahaan pemerintah, Pertamina, merupakan satu-satunya perusahaan yang mendirikan SPBU di Indonesia”. (wikipedia)

Kok ada kutipan segala? Hubungannya apa mas? Idul fitri?..

Sik siiik...sbentar.. sebentaaar...  Ini catetan dari tulisan saya sebelumnya yang ini ...

Saya ndak ada kekhawatiran sama sekali Saat Susi saya pasrahkan lubang tangkinya terbuka ke bapak-bapak untuk isi fulltank di SPBU ini, begitupun dengan Dimas (kayaknya sih). Susi dan Mbit langsung menyesuaikan antrian dan kami memang berada di nozzle pompa yang berbeda.

berharap yang jaga nozzle mbak mbak kayak gini...eaaaak..
Atau mbak ini.. eeeaaaaaaaaaaaaak... *dikeplak


Sewaktu ngantri saya langsung cek isi tangki susi, dan nampaknya memang masih full, wong baru isi beberapa hari yang lalu dan jarum bensin juga masih nunjuk “F”.
Duh, kadung antre..” : Batin saya.

Sempet niat mau ndak usah isi saja, tapi akhirnya saya isi juga, paling 5000-an juga sudah full. YAQIN. Saya memang juga niat sekalian mau test Fuel Consumption (FC) Susi yang sudah semakin remaja di usia yang 16 tahun ini.

Kebetulan yang ngisi didepan saya adalah bapak bapak pake motor bebek. (entah pakai gentongan apa tidak saya lupa). Selesai si bapak, Susi langsung saya siapkan, buka tutup tangki, cairan warna kuning khas  premium masih keliatan.

 “Yaqin, gak sampe 5000 ini pasti udah full”. : Batin saya yang mulai terbawa kesinetron sinetronan.

Kebetulan bapak yang jaga juga sigap dan langsung nanya

Berapa Mas?” : tanya si Bapak

Full pak.. hmmm... paling limaribuan “ : jawab saya

Tangan si bapak langsung cekatan, masukin nozzel ke tangki Susi, itupun saya lihat sudah langsung kena bensin yang didalam.

Nah ini... inniii.... si bapak kok ndak ngasih kode “Dari nol ya mas...” sebagaimana layaknya pelayanan isi bensin perusahaan plat merah ini. Saya secara reflek langsung liat ke pompa sebelum nozzle mulai ditekan.. Lho? Kok udah 15.000 aja itu di keterangan pompa? Hmm.....

Baru aja ditekan itu nozzle, tak berapa lama bensin langsung tumpah, karena memang kondisi juga full dari awal.  Tapi si bapak tetap berusaha full tank. Benar benar full tank. Bensin ngepress bibir tangki.

Itung-itungan FC bakal enak ini” : pikir saya.

Karena pastinya kapasitas tangki Susi sebesar 3,7 liter terisi sempurna. Tinggal itung aja berapa km Susi bisa jalan dengan setangki full premium. JOS! Tangki saya tutup, giliran bayar. Saya bayar memakai uang 50-an ribu. Dengan angka di pompa tertulis 18.000. berarti saya cuman isi Susi dengan premium 3000 rupiah saja. Karena 18.000 - 15.000 = 3000, ya to?

Ini mas kembaliannya 32.000 “. : Kata si bapak.

hmmmm...(ada yang salah iki)..Ya Pak.. ” saya jawab sekenanya.

Saya  langsung ambil kembalian, dan taruh di saku, dan saya dorong Susi hingga di depan pompa, untuk melanjutkan antrean belakang. Karena masih cukup pagi, sehingga antrean di belakang juga mulai ramai. Sementara itu, Dimas sudah selesai ngisi Mbit dan sudah berada di depan Susi.

Sik Dim, tak nggenahke” : Saya bilang  ke Dimas.

Saya balik lagi ke si bapak, dan..

Pak, maaf, ini kembaliannya tadi kurang, itu tad...

Belum selesai saya ngomong, dengan niat mau njelaske tentang angka yang sudah kadung ke-set di angka 15.000 di awal, si bapak langsung membalas dengan...

MAAF YA MAS.., itu kembaliannya sudah bener, ini pompanya gak bisa di nol-kan, mulainya di 15.000, jadi itu sudah pas !”. Kata si bapak dengan nada agak meninggi.
Bapak yang sedang dilayani sempat nengok 2x ke arah saya dan ke arah si bapak pompa.

Woooo lhaaaa.. somplak!!!

Untung saat itu masih pagi, walaupun belum sarapan nasi, saya masih bisa nahan emosi. Saya juga masih lihat antrean dibelakang yang masih mengular, dan juga nggak mau debat kusir pagi-pagi  dengan penjaga pompa karena pastinya si bapak bakal nggak mau kalah kalo dilihat dari raut mukanya, maka dengan nada yang sama akhirnya saya balas dengan :
OKE PAK, MAKASIH !”. Sambil saya nglengos balik, langsung stater Susi, bleyer dikit, GAS!

Rugi bandar 15 ribu” : batin saya (mulai tersinetron lagi).

Karena harusnya kembalian saya ya 50.000 – 3000 = 47.000. Lha ini kok kembalian cuman 32.000, berarti saya ngisi total 18 ribu dong!! Masak iya nozzel baru nangkring sudah 18ribu.. 

Gundulmuuuu!!!

Dimas sempat nanya mungkin karena mendengar percakapan saya tadi. Saya cuman jawab “Wis Rapopo..” sambil lanjut nge gas Susi keluar SPBU.

Tapi emosi tetep gak bohong, walaupun sempet dihibur selisipan dengan R1200GS, tapi selama sekitar 3/4km pertama tangan saya masih bernada emosi di handle gas Susi. Dimas sempat ngilang dari spion Susi. Baru setelah saya berusaha dengan ikhlas....

Yowislah, sing uwis yo uwis....” gas Susi berjalan kalem dan tenang. Kamipun jalan dengan nyantai beriringan.

Biasanya saya memang gak begitu “Ngeh” dengan sapaan “Dimulai dari nol ya maas..” Karena itu memang sapaan yang khas setiap kali mampir isi bensin. Sehingga saya juga hanya njawab sekenanya “Yaa mbaaak/maaas...” sambil dimesem-in sedikit dan nglirik penunjuk angka dan mbak/mas pelayannya.

Namun kejadian kali ini membuat kepercayaan saya terhadap pom bensin sedikit tercederai. Saya yang biasanya dan selam ini sudah sepenuh hati percaya kepada perusahaan yang sempat pake logo kuda lumping laut ini harus mulai membangun kepercayaan itu lagi. Susah lho membangun kepercayaan.. apalagi kalo dihubungkan perasaan...halah..

Kedepannya, ini menjadi pembelajaran bagi saya agar tetap waspada dan lebih memanusiakan manusia dengan memperhatikan pelayanannya terutama untuk kasus ngisi bensin yang seolah sepele namun krusial karena itu kegiatan yang pasti dilakukan berulang ulang.

Jadi.. apakah sudah pernah ada yang mengalami sama seperti saya?..


Ket Gambar :
1. kusnantokarasan.com
2. orongorong.com


Nb : 
Buat para pengelola SPBU jangan karena menjadi yang terbesar dan menguasai pasar kemudian pelayanan bab perminyakan menjadi diabaikan. Karena diabaikan itu melelahkan dan dongkol di hati lho. CIYUS!

Nambah : 
eh iya, hasil itung itungan ternyata di umurnya yang 16 tahun Susi masih sangguh jalan-jalan 5m km/liter premium lho.. tentu ini untuk ukuran jarak jauh. Lain kali akan saya coba itung itungan untuk penggunaan harian.


Salam syuuper..








Read More »

Rabu, 19 Agustus 2015

Riding ke Pacitan Bersama Mbambes

"ini bukan sekuel ke-2 dari postingan Pacitan lho yaa, just enjoy it"

Latepost. Sudah sebulan saya menabung demi lawatan anak mbambes yang jauh dimata ini. Gendut ke Jogja!

Pacitan menjadi menu yang dipilihnya untuk menggenapkan liburan  1 minggunya di Jogja. Sebenarnya ini pas dengan kepinginan Saya, Owok, dan Rahmadi yang memang mengidam-idamkan untuk kembali riding ke Pacitan via jalur selatan tentunya.

Melalui penawaran yang terjadi, personel yang disiapkan  yaitu ; 1 motor ber anggota : Adit dan Rahmadi berangkat dari Solo, dan 3 motor beranggotakan : Gendut, Owok, Murni, Widi, dan Saya berangkat dari Jogja. Mbambes lainnya? Anita gagal ikut, karena ada kerjaan mendadak. Aris juga sibuk dengan kerjanya. Ebes sibuk dengan cintanya (baca sawit). Lukman sibuk dengan citra satelit, sementara Ali sibuk dengan Tigenco-nya. semoga lain kali.. semoga
lihat bendera kiri-kanan. kami akan riding sekitar 130-an km 
Jadilah kami ber-5 berangkat dari Jogja setelah sebelumnya sarapan dulu di tempat favorit di sekitaran Kota Gede. Selesai sarapan, sebelum lanjut berangkat mengarah ke Pacitan, di sekitaran POM Piyungan kami memberikan kode ke dua anak Solo bahwa kami sudah mulai cuss, dengan harapan kami bisa bertemu nanti di Pacitan dengan pas.

Jalan Jogja – Wonosari kami lalui dengan lancar, momen yang pas karena kami mengambil hari biasa, bukan hari libur. Selepas kota Wonosari suasana adem dan aspal mulus sudah tersaji didepan kami. Dijalan kami begitu menikmati  jalur Wonosari – Wonogiri yang aduhai. Saprol meliak-liuk dengan santai disekitar 60-70 kpj. Memasuki Wonogiri kami bersiap dengan aspal yang katanya nggronjal. Sepertinya itu hanya mitos bagi perjalanan kami, karena ternyata hanya sedikit saja kerusakan jalan yang kami temui. Plang penunjuk jalan juga sangat jelas menuntun kami lanjut ke arah Pracimantoro. Saking asyiknya, kami tak sempat kepikiran untuk sekedar berhenti berfoto, aspalnya begitu menggoda..
"Kami tak pernah terbayang sebelumnya jika jalur lingkar selatan (JLS Jogja – Wonogiri- Pacitan) akan kami nikmati dengan ...dengan... ah, saya pasti akan kembali melewati jalur ini..pasti..."
Kami janjian di pertigaan pertemuan JLS dengan jalur Pacitan – Solo, di daerah Punung namanya. Menunggu tak begitu lama, dengan mendung yang tampak menghitam disebelah utara, perjalanan Adit dan Rahmadi ternyata sempat diwarnai dengan gerimis kecil dan aspal super bumpy. Daripada menunggu agak lama, akhirnya rombongan dari Jogja mengabarkan untuk memilih meneruskan perjalanan menikmati setiap tikungan dan menunggu di hutan mahoni daerah Pringkuku, sekalian mengenang kembali perjalanan pacitan yang pertama.

Hutan mahoni ini menjadi andalan wisata tanpa mbayar sebelum memasuki kawasan pantai pacitan. Lokasinya yang agak nylempet membuat hanya sedikit orang yang tahu, karena berada persis di tikungan, membuat orang ndak begitu aware adanya hutan mahoni ini.
Pantai Telengria Pacitan jika dilihat diatas
Kalo di zoom lagi jadinya gini.. duh apik-ee
Dengan sedikit foto-foto najong kami menunggu kedatangan duet Adit-Rahmadi. Dan benar tak begitu lama, merekapun sampai. Ngaso sebentar, lalu kami lanjut mengarah santai ke Kota Pacitan.
wece-wece pose najong.. dih
kalo pas lagi begaya
Bertemu dengan Adit dan Dimas
Ke arah kota, kami langsung mencari masjid agung untuk istirahat dzuhur juga menentukan lokasi penginapan. Sebelumnya kami berniat booking online. Tapi takut kecewa dengan pesanan akhirnya setelah sempat googling dulu, kami akhirnya menginap tak jauh dari alun-alun pacitan, sekitar 200m sebelah barat alun-alun, disebelah selatan jalan. Ekonomis – Dekat – dan aksesnya mudah.

Beristirahat sejenak, cuci-cuci muka, lepas beban kami langsung start lagi mengarah ketimur, menuju Pantai Soge. Semoga pantat kami masih kuat menahan gempuran panas jok mesin 4 tak ini. Sempat diwarnai dengan “sedikit kesasar” karena GPS Widi yang ngetrack jalur lama, kami tiba di Pantai Soge menggunakan jalur offroad pating nggrunjal yang berujung di JLS Pacitan – Trenggalek, disebelah barat pantai Soge. SUPER!! Bahkan rem cakram belakang supra adit sempat nge-loss gara-gara dibejek saking terlalunya untuk mengatasi jalan rusak yang naik-turun.

Sedikit melintir gas, dan VOILA!!!  JLS Pantai Soge yang meliuk indah pun nampak. Istirahat sambil menikmati pentol khas Jawa Timuran, kami puas jeprat-jepret hingga menjelang maghrib sebelum akhirnya balik lagi ke penginapan untuk bersih-bersih dan siap menyambut malam di Pacitan.
MX nya Widi langsung pose
Rombongan pantaat di Pantai Soge
Owok yang selalu gagal motret Widi di tikungan Soge.. hhahahaha
ini entah siapa, lewat malah dapet foto bagus. Nice Job Wok..!!!
Selfie doloo..
foto lengkap personel dan motornya
Widi dan Soge.. ciyeee..
Selesai dengan berbagai aktivitas di penginapan, dengan wangi kami muter Kota Pacitan yang berakhir dengan warung tenda bakmi dan nasgor. Bingunglah yang membuat kami tak berkutik sehingga harus menyerah di dekapan warung tenda di samping dealer suzuki. Yaudah, makan aja. Toh abis juga hahahaha.. Selesai dengan urusan perut, meluncur ke alun-alun sekedar nongki-nongki dan melihat aktivitas muda-mudi kota seribu goa ini. Sambil nyemil jajanan indomaret, Saya, Owok, Adit, Rahmadi asik nyemil popcorn, sementara Murni dan Gendut asik nggak asik nonton film dari hpnya Gendut yang baru, dan berakhir dengan rasa kantuk yang menyarankan kami untuk berlabuh di kasur.

Hari ke-2 di Pacitan. Pagi cerah, dengan gelas-gelas kopi hitam yang sudah tersedia di depan kamar mengawali jadwal hari kedua. Foto-foto bentar dan tanpa mandi dulu, packing seadanya dan seperlunya, kami meluncur ke arah utara dari kota Pacitan.... menuju Pemandian air panas!!
Disambut kopi hitam pacitan
Rahmadi yang pagi-pagi udah mellow
Jalan yang adem masih setia menghiasi di kanan dan kiri. Lokasi pemandian yang agak masuk masuk gitu ternyata tidak membuat pengunjung sepi. Bahkan bus besar, medium, kecil hingga mobil pribadi sudah berjajar rapi di parkiran. Bayar loket langsung cuss!! Mandi air panas bumi asli..!! beeeeeh nanaas...

Demi alasan keamanan, foto aktiviti basah-basah diganti dengan pemandangan depan parkiran pemandian yang aduhai trims @wayyuwidi
Ada 3 kolam utama yaitu  , kolam anak, kolam dewasa, dan kolam super panas, serta kamar mandi VVIP dengan tiket tambahan untuk menikmati air panas secara eksklusif. Yaelaaah booorrr. Kami pilih kolam dewasa  dengan kedalaman sekitar dada/leher. Sempet ragu-ragu duo srikandi mbambes akhirnya nyemplung juga, yaiya, wong belum mandi hahahaha. Mandi sampe 1 jam lebih ternyata bikin capek, apalagi kalo pake gaya sok-sok-an banyak gerak, renang kesana-kemari yang ujung-ujungnya bikin KO. Makanya disarankan kalo mandi air hangat/panas, nyaman aja nempel di pinggiran kolam kayak simbah-simbah. Menikmati anget-anget panas air sambil sesekali membasuh muka. Catet!!
Aktivitas sok-sok an di kolam air anget ditambah perut kosong karena belum sarapan, memaksa kami untuk refuel dengan bakso lokal yang ternyata cukup ciamik rasanya. Karena makan nasi terlalu mainstrim! Matahari yang sudah hampir di atas ubun ubun pertanda kami hari kembali ke losmen. Check out !!

Tidak serta merta langsung balik ke Jogja/Solo, kami nyempetin berkunjung dulu ke Pantai Klayar.  Dimas ngebet banget pengen nonton seruling alamnya. Jalan yang baru ke pantai Klayar via Goa Gong cuman manis-manis tebu, prekk.. mulus sebentar, selebihnya ZONK! Jalanan ancur dan macett karena banyaknya pengunjung !!  Huff!! Setelah berjuang hampir 1,5 jam lebih kami dijalan, dan sesampainya di Klayarpun wuanjiir, full pengunjung, sungguh merana nasib kami.. ndak jadi liburann hahahaha...
begitu nampak di depan mata... walah ramenya
ternyata parkirannya tok yang penuh, pantenya biasa ajah..
Loncat-loncat buat tombo anyel
Minta difotoin orang lewat
Loncat jilid 2
Ada ATV buat yang pengen bandel di Klayar

Minat difotoin orang lagi
Akhirnya diputuskan istirahat sebentar sambil menikmati bakso bakar, lalu foto-foto sebagai penutup dan penghapus kecewa atas Klayar yang gak begitu owsom kalo menurut saya. Mungkin karena ramainya kali yak, atuhlah...

Jalur balik, untuk menghindari kemacetan dan jalur offroad, kami pilih alternatif yang langsung mengarah ke Pracimantoro. Jalurnya ndak kalah ekstrim namu selo, lias ndak banyak banyak yang lewat. Hingga sampai di Praci sudah hampir maghrib, refuell di pom lagi, langsung cuss mengarah ke Wonosari sebelum gelap, maklum, jalur Praci – wonosari cukup gelap karena minim penerangan jalan. Adit – Dimas juga ikut kami, via Wonosari. Hal ini karena jalur Pacitan – Wonogiri sungguh terlalu sehingga mereka memilih untuk mencoba jalur Wonosari – Klaten.

Sempet kena jebakan betmen  selama di jalan, dan berpisah dengan Adit – Dimas, kami sampai dengan selamat di Masjid Agung Wonosari ketika jam tangan sudah menujuk hampir jam 7. Istirahat sebentar kami mengarah ke Kota Jogja, dengan tujuan Nasi Goreng Notaris di daerah Lempuyangan.

Melahap sepiring nasi goreng sambil ketiwi-tiwi lihat hasil kelakuan kami selama di Pacitan hasil jepretan widi menjadi penutup malam sebelum kembali ke kos masing-masing.. oiya, adit dan Dimas kabranya juga berhenti istirahat di daerah Klaten/Sukoharjo mborong soto/sop 6 mangkok sekaligus.. Larrr Biyasaah..


Terimakasih waktunya, kapan-kapan diisi yang lebih seru. Kata Gendut sih next mau liburan di 11 kota/kabupaten mbambes.. HAH? YAQIN?? Insyaallah... see you next trip!!

Dibalik gambar mbambes yang bagus ada widi sebagai jurufotombambes..Thanks Wiiid.. 
Semoga kepingin


... 


Read More »