Halaman

Rabu, 18 Maret 2015

Mencari Suksesor Si Biru



Nb :
  1. Mohon sambil sedia cemilan, karena cukup moler-moler surhatan saya ini
  2. Kalo bisa, kalo bisa ya, sambil ndengerin ost postingan saya ini :D

 Almost there – Opus orange ft Lauren Hilman


Sekitar awal 2009 (semoga ndak salah), mengawali karir dalam dunia permotoran saya setelah 2 tahun sempat menjadi alay yang sering biyayakan dan kurang septi dalam berkendara, saya memutuskan untuk mengikuti trend HELM BAGUS.

Sebagai anak putih-abu dari ndeso sebenarnya saya nggak serta merta mengikuti arus kawula muda saja, namun entah karena yang lagi mletik atau gimana, saya sadar saat itu, bahwa Helm merupakan pelengkap yang utama dalam berkendara. SUWER. 2009 juga seinget saya bapak-bapak kepolisisan mulai gencar dan disiplin dalam melaksanakan operasi helm SNI. HELM Batok? SIKAAAT!!!

Tahun 2006 menjadi awal saya memiliki helm (disini benar benar dirawat). Kaca pelangi yang membuat muka nggak kelihatan pas motoran. NECIS! Helm DMI apa adanya, dicat pilox  item doft dipasang kaca model gituan tadi, ditempel stiker sebagai pengganti merk. RAMUTU.

Setahun memakai helm itu, saya mulai tertarik dengan helm yang agak bagus, ada tabungan dan mengajukan proposal sama bapak, terbelilah BMC grafis halfface  dengan kaca yang masih pelangi namun umurnya tak lama karena harus hilang di halaman parkir.
Disini saya kadang merasa termehek-mehek...

Jaman bersama VOG Biru

Tambatan saya selanjutnya adalah VOG biru tua. Dengan kaca masih pelangi namun dengan tingkat kepelangian yang makin pudar alias mukanya bisa kelihatan. Nyaman. Hampir setahun bersama VOG akhirnya saya kepingin ganti lagi. L Lho Kenapa? Katanya nyaman? Saat itu saya mulai belajar jalan malam bersama si empit (dibahas lain kesempatan). Berkendara malam tentunya nggak semudah saat siang. Silaunya sorot lampu kendaraan kadang memaksa untuk lebih baik buka helm daripada kena jebakan lobang menganga, maklum jalan aspal antar kecamatan sungguh membutuhkan agiliti yang tinggi untuk ber zig-zag mencari jalan paling nyaman yang dapat dilalui si Empit. Dan VOG biru juga berakhir di tangan maling ketika di pake Mas Adi di Semarang.. bajindul..

Eaaaa – Koboy Juniors

Takachi, BMC, INK mulai mewabah dikala itu dan INK hijau Ninja sedang moncer moncernya. Tabungan saya sudah mulai wah untuk bakal calon helm nubie saat itu, 260-an ribu sudah ditangan. Bingung milih model apa yang akan cocok melindungi kepala saya. Apakah INK ijo ninja? YA, SAYA KEPINGIN!!! Muter muter lapak-lapak helm ada, saya akhirnya diberikan bisikan juga dimana lokasi yang menawarkan harga miring. Kebetulan teman saya saat itu juga baru saja beli INK ijo ninja dengan mahar 250 ribu. Di lapak hasil bisikan itu terpaut 5000 rupiah!! *sungguh saya mewarisi sifat jamak ibu ibu di dunia ini, sungguh...

Mlipir kesana. Benar saja, dilapak sederhana pinggir jalan, saya dibuat megap-megap ketika membuka kardus helm INK ijo ninja yang pesonanya ngungkuli Raisa saat itu.. SAAT ITU LHO YAA... Dibanderol dengan 245 ribu rupiah, sungguh mempesona.

Gemilang – Andien

Lama saya dilapak helm itu. Mata tak henti hentinya seliweran memandangi helm wah wah lainnya. Helm fullface yang sungguh saya bingung, kapan ya mampu beli dan make? Maklum helm hadiah motor empit wagu pol, ASIMO! HIH!

Ketika dompet yang berisi 260-an ribu sudah hampir keluar, disaksikan teman saya yang masih bangga memakai helm INK ijo ninjanya, saya  melirik warna biru di sela sela helm pajangan. Dompet saya tahan keluar kandang, kembali ke belakang pantat..., dan drama itupun dimulai..

 “Mas itu Mas, coba lihat..”  : telunjuk saya mengarah ke benda bulet warna biru

“yang mana? Ini?” : jawab si mas sambil nunjuk juga

“Ho’oh, merk apa e Mas? Kok baru tau..?” rasa penasaran say mulai mak bedunduk keluar

“Helm anyar ki GM.. Baru dateng.. baru disini..” jawab mase disertai mengulurkan biru-bunder itu kesaya.

“GM? Wah.. berapaan ini mas? : saya kepancing

“230/235 (*saya lupa)... mase menjawab dengan mengambil INK ijo ninja pujaan saya..

Saya mulai mikir.. siapakah nama mase penjual helm ini..

Dia atau Aku – D’Masiv

Pandangan mata saya tak mampu lepas dari kedua benda ini.. satu ijo polos satu biru dengan grafis grafis aduhai.. Maklum, untuk meminang helm INK halface grafis, saat itu harus merogoh kocek 275 ribu.. beda yang lumayan bagi nubi pas pasan macam saya ini..

Mase masih tampak seolah berusaha memikat saya dengan si ijo dambaan saya. Tapi hati ini berkata lain, jodoh dipelupuk mata sungguh tampak. Jelas banget malahan.. Selama saya wira-wiri nyari harga helm, bahkan ditoko helm yang cukup ternama pun saya belum pernah melihat wujud menakjubkan satu ini. LEBAY PUOOLL...

Niat saya bulat. 10 ribu, ( disini saya  ingat kalo harganya 235 ribu), saya ulang... 10 ribu itu lumayan, lumayan buat jengjeng, buat bensin si empit.. buat bakwan kawi 2000-an  dapet 5 jhe.. Saya mantap memboyong si biru. Biru muda tepatnya.. GM seri space city, nama kebarat baratan yang keren banget menurut saya yang cupu bahasa inggris..

"Hari-hari indah saya dimulai mulai hari itu juga..."

Empit yang warnanya item-merah putih-kuning-oren sungguh ndak klop blabar blas dengan space city yang biru muda.. yowesbenlah..

Empit ft Spacecity di pelataran parkir Sangiran

Mika kacanya transparan, kalo siang panas dan silau tapi kalo malem bening.. Hati saya ayem tentrem dibuatnya.. biarlah muka minor ini dikenali orang kalo pas lagi jalan.. buahahahaha cukuplah masker pinggir jalan menjadi penghambat debu masuk hidung saat harus berjibaku di jalan lintas kecamatan melawan asap hitam bakaran solar dari knalpot knalpot bus lokal.. sungguh tangguh saya ini..

Tahun silih berganti berganti, si biru spacecity senantiasa setia menemani saya dalam berbagai perjalanan.. panas terik kemarau dengan debunya. Hujan deras yang membuat kabur pandangan dan sakit ditangan ketika melaju bersama di empit, Liburan ke Bumiayu tempet simbah temen SMP.. menjadi pelindung selama menikmati bangku kuliah, menjelajah Gunungkidul, muter muter ke Blora Mustika, menjadi pelindung ketika musibah menerka saya bersama empit, melawan debu merapi dan kelud, wira-wiri Merapi dan Kaliurang, Parangtritis dan sekitarnya, Pacitan, menjelajah Solo  dan menikmati dingin-dingin nagih di Tawangmangu, hingga sampailah di penghujung tahun 2014..

Selimut hati - Dewa

Sudah 5 tahun rupanya. Terhitung 3 stiker nempel di sibiru spacecity. Bocal bacel selama menjadi petugas perlindungan kepala tak terhitung lagi. Baret dimana-mana.. kaca bening yang tak semulus dan sejernih dulu kala, busa yang semakin keras di pipi, karat mulai menghingap akibat kecerobohan saya yang semena-mena menantang hujan, belum lagi  kotoran yang tak mampu lagi dibersihkan padahal sudah di uwel-uwel segala macem deterjen.. satu kata si biru sudah tak mampu menemani saya lagi..

Barettt

Stiker Spacecity
Larut  - Dewa

Rangkaian Kata – Gita Gutawa

Tidak! Saya menolaknya! Saya masih setia bersamanya.. hingga saatnya, ketika saya harus berkendara malam beriringan dengan hujan.. Kaca si biru tak mampu lagi menghadang silaunya sorot lampu dan melimpahkan air hujan dari muka saya.. pandangan saya makin ndak jelas.. Disini saya sadar, bahwa sibiru tak mampu lagi menjadi pelindung saya. Saya tak mampu lagi mengelak akan umurnya.. saya harus melepaskannya

Awal Januari 2015, akhirnya dibukalah mesin pencari google via leptop dengan ata kunci “helm halfface” bersandingkan si biru disamping saya...

Kandidatnya MDS superpro, INK kelabu dan KYT kelabu juga. Mds superpro jelas, menurut namnya saja berbau bau supermoto ahhh.. saya sedang terpikat dengan supermoto-supermotoan.. sedangkan duo kandidat karena saya pernah terpikat dengan INK dan KYT tentu saja karena kualitas dan modelnya yang ca’em..

Kembali – Afgan

Wira-wiri lagi ke toko helm.. berselancar mengorek info di dumay saya mantap... INK halfface kelabu menjadi pilihan saya.. mampir ke toko helm sekaligus bengkel di Solo, MOSS yang letaknya di depan SGM.. saya melihat koleksinya cukup lengkap.. Ketiga kandidat saya ada semua.. Dan ternyata warna kelabu disini disebut dengan GUNMETAL.. keren... hahaha  Saya pilih INK HALFFACE GUNMETAL SERI CX 22 dengan MIKA CLEAR alias bening..

Mengapa halface (lagi)? Kepala saya ternyata masih terlihat wagu jika harus memakai fullface. Alasan simple tapi iya.. dan bajet yang dapat di hemat.. J
.......
Auld Lang Syne - Kenny G

The Way We Were – Barbara Streisand

Saya buka pelan pelan busa pipi kanan kiri si biru, terlihat bahkan karat sudah menghampiri di klip-klip-an dalam busa, ambil sikat dan mulai menggosoknya.. Si biru harus saya istirahatkan dengan bersih.. meskipun tak sebersih sewaktu saya meminangnya dulu kala. Mikanya yang penuh baret sisa abu vulkanik merapi dan kelud saya usap dengan kanebo basah.. Saya biarkan stiker tetap menempel padanya. Itu kenangan saya bersamanya. Baret-baret padanya biarlah menjadi kenangan saya kepadanya, kenangan terhadapNya atas pelindung dan penyelamat kepala saya ini.. byee

Bersama suksesor
Saling hadap
Daleman

 Mari menyongsong jalanan dan cerita baru bersama GUNMETAL..

Locked Out of Heaven – Bruno Mars


*percakapan sengaja saya bahasa Indonesiakan, biar memudahkan pembaca sekalian dalam mencerna surhatan saya ini... iyyyuuuwwhh...


Karaatt 
Bye Bye Spacecity.. :'(

.....





Read More »

Senin, 02 Maret 2015

[lagu] Jatuh hati



Bener juga, Mbak Raisa ini lagunya asik-asik.. Mbak raisa, nama yang begitu populis tak hanya bagi kaum batangan tapi juga bagi mbak-mbak dari yang suaranya mepet sampe penyanyi papan wahid..

"Mbak Raisaa.. kamu JUWARAA :D  "

Setelah kepincut gara-gara video mode hitam putih Mbak Raisa di album 2011-nya yang Apalah (Arti Menunggu) *semoga ndak salah, dan video di Korea-nya di terjebak Nostalgia, single barunya "Jatuh Hati" yang (mungkin) ambil shooting di Nusa Tenggara ini asik bener...

Jika kemaren kepincut Mbak Raisa karena kualitas video 4K-nya juga alunan musik syahdunya, maka kali ini saya kembali bergoyang karena lirik musiknya (meskipun videonya ya tetep aduhai) *laaah namanya juga raisa :I Di Dalemnya juga ada Mas Oka yang super juga. Jadi buat para embak-embak, jangan khawatir karena selain denger suara penyanyi pujaan juga masih bisa mensyukuri karya-Nya ya via Mas Oka ini.. brewoknya itu lho :P

Saya adalah sekian dari penikmat musik yang mungkin mengutamakan alunan dulu dibanding lirik... jika enak baru deh kepo liriknya.. #BEBAAS

Nih Mbak Raisa nih, meskipun sebenarnya tinggal ketik di google dengan keyword : Youtube Raisa – Jatuh Hati, tapi saya rasa tetep harus saya kasih link-nya dari sini.. sebagai bentuk kekaguman saya kepada Mbak Raisa melalui blog sederhana ini.. 


Jatuh Cinta atau Jatuh Hati? Tentukan pilihanmu SEKARANG..

Selamat menikmati ya Gaes.. 







.....






Read More »

Senin, 09 Februari 2015

Jakarta, Kota Termacet di Dunia

Barusan saya mampir ke postingan http://iwanbanaran.com/2015/02/09/jakarta-dinobatkan-sebagai-kota-termacet-didunia-akhirnya-juara-juga/ dimana intinya Jakarta dinobatkan menjadi kota termacet di dunia! dan Surabaya menjadi peringkat ke-4 nya!!

Selamat Indonesia! Selamat warga Jakarta dan Surabaya!!!

SELAMAT MUMET NDASEE...

Semoga lekas teratasi. Sudah cukuplah banjir tahunan jangan ditambah tambah lági dengan prestasi yang sangar-sangar lainnya...

Semoga dalam kemacetan masih bisa meluangkang waktu untuk menikmati es dawet yang kayak bawah ini.. #fyuuh.

*gambar dari google.com

Read More »

Jumat, 02 Januari 2015

Kemacetan Abad 21, lalu?

Kapan terakhir ke Jogja?

Apa yang beda? Yang baru?

Selain underpass dan flyover Jombor, hotel dan apartemen yang menjamur : Calon Hartono Mall di deket RS JIH, Apartemen di daerah Monjali, bangunan baru di daerah Lottemart Maguwo, hotel keren keren di Selatan Tugu, dan jalur-jalur searah yang baru, kemacetan merupakan pemandangan seolah baru bagi saya ketika mampir Jogja.

Sewaktu saya masih jadi penghuni Jogja, yaa sekitar 2009/2013 lah, macet yang biasa saya temui berada di sekitaran : perempatan Mbarek dan jakal (maklum UGM), perempatan Concat (maklum UNY), pertigaan Colombo (maklum UNY dan SADHAR), perempatan Monjali (maklum UGM dan pembangunan jombor kala itu), ruas ruas jalan di daerah Sagan, mirota kampus UGM, tugu, pasar demangan, dan Malioboro pastinya.

Pemandangan macet saat itu bisa ditebak, motooooor semua. Sepertinya memang roda dua lagi booming. Bebek, matik,bebek matik, batangan jepang, india, seperempat liter, semua turun ke jalan, macet.

Kemudian semua berubah. Apa yang dulu digembor-gemborkan motor/roda dua penyebab macet sepertinya harus di evaluasi...!!! Cie elaaahh.... 

Berdasar pengamatan saya dalam usia yang semakin matang ini. Kemacetan pleh motor hanyalah berlaku pada kondisi tertentu. Di daerah pinggiran kota misalnya.

Selebihnya?

Mobil dan roda 4-5-7-8-20-dst lah penyebabnya. Kita sadari, bahwa perbaikan ekonomi dan finansial serta gaya hidup membuat mobil sudah laris manis kacang goreng. Kalo gak percaya sila cek gugel penjualan mobil dari ATPM yang ada di negeri ini.  Itu baru data penjualan mobil baru, yang lama? Yang nggak kedata? Yang di neko-neko lainnya? Mbuh....

Adalah benar bahwa pengendara motor "kebanyakan" memang kurang tertib, nggak rapi, semrawut dll.

Etapi....

Bisa dibuktikan sekarang ini, dengan semakin banyaknya mobil (kita sebut saja demikian) yang berlalu-lalang di jalanan memakan space yang lumayan, dibandingkan motor. Belum lagi daya lemot mobil ketika di lampu merah. Bener toh? Mobil bikin macet.

Yatapi sebagai sesama pengguna jalan, toleransi adalah yang utama. Bukankan kita diajarkan sopan santun, beretika, ketika dulu di pelajaran PMP, PPKn, PKn, atau Kewarganegaraan?

Pengendara motor yang semawut ada, banyak, yang santun pun tak sedikit. Pengendara mobil yang ugal ugalan ada, tak sedikit, yang kalem pun banyak. TOLERAN.

Sebagai pengendara motor saya berusaha ndak kloksan klakson seenak jidat di lampu merah baik ketika dibelakang motor ataupun mobil. Ya karena nggak semua orang kayak saya style mancal motornya. Mobil lemot di lampu merah /traffic light ya memang wajar kalo menurut saya. Soalnya nyupir mobil itu butuh konsentrasi dan kesabaran lebih. Lebih besar, panjang, dan muatan pun lebih banyak.

Begitupula sebagai pengemudi mobil. Ya memang sabarnya harus pol polan. Nggak bisa selap selip ya emang. Tapikan dikompensasi sama kenyamanan? Nggak begitu kepanasan, nggak kehujanan, masak iya masih kesusu-susu, main pancal gas sembarangan. Wagu... Mbok yao yang kalem. Karna yang nyebabke macet nggak cuman motor, tapi situ juga...

Saling toleran yaaa..
Oiya, selamat 2015...

*gambar dari google

                                     salam, pengendara motor

                            ......

Read More »

Sabtu, 13 Desember 2014

Cobaan Sabun Campur

Pagi itu, Anton, ± 22th dengan wajah kusut, rambut awu-awutan sehabis bangun tidur langsung turun dari tangga lantai 2 kamar kosnya. niatnya sudah bulat, menyambangi ibu kos!

Tangan kirinya membawa botol kecil pocari sweat yang berisi cairan bewarna hijau kebiruan, tangan kanannya masih garuk-garuk rambutnya yang belum disisir.

"miiisii buuu....?" dengan sopan ahirnya keluarlah kata panggilan untuk ibu kosan. Tubuhya yang putih kekuningan terdiam di depan pintu yang mlimping sedikit.

Dari dalam, tampak ibu-ibu muda segera menghampirinya.. 

"Ya Mas, pripun..?" jawab si ibu

"Niki, bu.." jawabnya sambil menyodorkan botol pocarinya.

Bu kosan yang baru keluar melihat botol yang disodorkan kepadanya. Bingung. uiikiii maksutee uooopooohhh....  mungkin batinnya..

"Niki maksud saya kelakuan si adik bu....  Adik mainan sabun saya Bu, sunligt dicampur sama rinso.." lanjutnya sambil menahan kesalnya dengan membuka sedikit senyum..

"Owaaalaaaahhh.... adik kalok mainan sembarangan toh.. Ya ma'af mas, ma'aaf.. biar nanti tak kandhani... kok le mainan gitu tooh..." jawab si ibu dengan cengir khas ibu-ibu umur 30-an.. Manis..

Akhirnya yang bersangkutan pun balik naik lagi. Ke lantai 2, dimana seember baju belepotan oli sisa kuliah praktek kemaren sore masih menunggunya untuk diberikan sentuhan dan rendaman. Apa daya..usahanya tak membuahkan hasil.., hanya janji tuturan buat si bandit kecil..

Saya mengamatinya dengan sedikit senyum.

"Pake punyakku po..? lumayan aku bar tumbas kok.." tanyaku agak keras mencoba menawarkan sebagai tetangga kamar

"Ndak usah mas.. wis ben.." jawabnya sambil nyengir pergi masuk kamar lagi..

Sebagai tetangga kamar yang baik dan senior pula, saya merasa punya tanggungjawab untuk saling menghibur, apalagi anak perantauan jah seperti si Anton.

Walopun sama-sama sabun, dan sama-sama cair, perpaduan keduanya ternyata hanya menghasilkan pemandangan saja. Fungsinya menjadi ndak jelas. Mau dipake nyuci piring kok wangi rinso, mau dipake nyuci sabun kok wangi jeruk nipis, apa iya ke kampus pake baju wangi jeruk nipis? wagu. Ndak semua yang sama itu cocok, apalagi kalo cuma kata orang.. pret..

Terkadang hal sepele sperti ini bisa jadi guyonan kalo terjadi di awal bulan. Tapi kalo akhir bulan kayak kasus si Anton, ya nyengir jurus ampun tombo kecewa yang berkelanjutan..

Akhir bulan memang tantangan, cadangan perlengkapan yang menipis harus dihemat agar masih bisa memenuhi tantangan hingga tanggal baru bulan besoknya.. Sudah di irit-irit .. eee.. ndilalahi kok ya ada aja yang namanya halangan..

Cobaan yang didatangkan memang sangat beragam. Kalo pas diri kita ini lagi kuat-kuatnya, mau cobaan model apa ecesss.... I can handle it kalo bahasa kerennya..

Tapi Tuhan itu Maha Tahu, Maha Adil.. cobaan itu ya harus di nikmati, dirasani untuk nguji seberapa tangguhnya kita. Maka dikirimlah cobaan ketika sedang susah.. Disinilah seninya cobaan. Kalo tahan ya lolos, sukses, kalo ndak tahan yang muring-muring-lah, stress, nyari pelarian dll.. Disinilah kuasa Tuhan untuk menguji hambanya..

Wallpaper di komputer saya ini juga cobaan..

*gambar : Printscreen dari iklan KTO :)


...

Read More »

Rabu, 26 November 2014

[BUKAN] Repost Merbabu

Sudah lumayan lama rupanya saya ndak nulis hal hal berbau "nggunung" Ya Kan?

Se-enggak pengen-enggak pengennya rasa untuk nggak jalan-jalan kok ya tetep pengen..

Malem-malem gini nulis berbau "nggunung" aneh juga sih ya.. Tapi semua yang terjadi pasti ada alasannya.. Berbekal postingan si kampret "sulak" yang kebetulan malem ini entah ada angin apa saya mampir dotkom-nya sulak, saya jadi mikir..

"Iya,, mikir...."
"Lama nggak posting gunung juga ya. :D"

Maka perkenankanlah saya sedikit berbagi cerita.. dimana, semua berawal dari sini *tunjuk hati

Preparing
Beberapa waktu yang lalu, lama sudah saya sempet "off" , ngaso aktivitas begituan (begituan disini dibaca jalan-jalan ke gunung), hingga pada suatu hari ajakan yang tak mampu ditolak itu datang lagi. Ajakan yang datang dari seorang ahli foto mbambes.

Kemana? deket saja, tempat yang terkenal dengan bukit teletubies-nya. Tujuan dari awal memang hanya photo hunt, kerennyaaaa..... Kami ambil jalur itu ya memang karena pemandangannya dan kebetulan beberapa hari sempet hujan, jadi suzanna harusnya sudah mulai sejuk untuk halan-halan.

Benar saja, jalur yang dulu sempat terasa mematikan karena cuaca yang mawut banget naik sore hari membuat semuanya jadi gamblang. Jalurnya sebenernya asik cyiint. Saya trus trang nggak apal per-postnya, yang pasti dari awal kami sudah disambut HUTAN! Ini memang awal yang membuat semangat saya sendiri. 

Baru aja jalan udah ketemu dedek dedek gemes dari Jogja.Mereka baru pertama kalinya dan niat untuk sampe puncak. JOZ..
Kami hanya bertiga, sayaa, si ahli foto mbambes, dan mas-mas geek mbambes yang pertama kalinya mau diajak naik nggunung... *padahal..... Bersiap dari basecamp, setelah bekal dirasa cukup, kami naik dengan riang, menikmati jalan.

Post demi post kami lewati, sambil mengingat bagaimana susahnya medan dulu, saya masih hafal betul. pantesan kesasar, setelah daerah lapangan dimana dulu kami keok, trek nya naik betul untuk sampai di Sabana 1, dimana kenampakan bukit teletubbies sudah mulai terlihat muaknyuss.. 


Jam 10-an malem, kami sudah mulai mendirinkan tenda. Kabut dan angin ngebut banget, perkiraan saya ya hujan. eh enggak ternyata. syukur deeh.. Tenda yang dipake harusnya cuman buat couple alias sepasang, diisi bertiga dengan badan saya yang paling tipis, tidurpun dibela-belain miring agar muat bertiga. sempit, anget, suk-suk-ndeng.

Mas fotograper yang kayaknya gundah gelisah nggak bisa tidur sekitar jam 3/4 pagi sudah mulai foto-foto, sayangnya lensa tele malah nggak dibawa.. :|
Diisi bertiga
Apalagi yang ditunggu saat pagi.. SUNRISE pastinya! Ajib bener, Sunrise di depan, Merapi dengan kokohnya di kanan dan puncak di kiri. SUPERB! Nggak ada yang lain selain disini. #yaiyalahbrew. Lanjut masak dan bergembira karena ini kali pertama lewat jalur ini dan *hampir sampe puncak bagi kami bertiga. Cupuu... Berikut saya lampirkan beberapa hasil jepretan selama halan-halan kami waktu itu.. foto terlampir :))
Imut-imutan di deket tempat nenda

Biar dapet view yang bagoos..

view tempat nenda kami dengan background merapiini yang nagih..!!
Udah mirip JMT?

Surakarta, Salam mdpl...
....

Read More »